Pemberantasan

Pencegahan & Pemberdayaan Masyarakat

Terkini


Rabu, 1 Juli 2020

LUMAJANG HIDUP 100, SADAR, SEHAT, PRODUKTIF DAN BAHAGIA TANPA NARKOBA

Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) yang jatuh setiap tanggal 26 Juni, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Lumajang menggelar sejumlah kegiatan. Pembagian seribu masker, pengukuhan Desa Bersinar (Bersih Narkoba) Desa Penanggal, penekanan aparat tidak boleh terlibat narkoba dan nobar konser Slank.AKBP Indra Brahmana, Kepala BNN Kabupaten Lumajang menyatakan tema HANI 2020 adalah Hidup 100 persen. Dalam artian hidup sadar, sehat, produktif dan bahagia tanpa narkoba. "Kita menggelar sejumlah kegiatan dalam rangka HANI 2020,"ujar Indra.Pembagian seribu masker karena adanya pandemi Covid 19, BNN ikut andil memberikan adukasi kepada masyarakat tentang mencegah penularan Covid 19. Memakai masker adalah salah satu cara untuk melindungi diri dan orang lain agar tidak tertular Covid 19."Kita datang ke pasar-pasar dan diruas jalan ramai pengendara. Kita langsung berikan masker kepada warga yang kedapatan tidak memakai masker," jelasnya.Untuk penekanan aparat tidak boleh terlibat narkoba dilakukan saat teleconference dengan Wakil Presiden, kepala BNN bersama dengan Forkopimda. Semua pejabat negara harus menjadi contoh yang baik dengan cara tidak sekali-kali menggunakan narkoba.Khusus untuk Desa bersinar, merupakan moment yang luar biasa bagi kita semua, khususnya bagi kami keluarga besar BNN Kabupaten Lumajang, karena deklarasi Desa Bersih Narkoba (Desa Bersinar) yang pertama di Kabupaten Lumajang sangat istimewa karena mengandung filosofi makna sebagai berikut :

  1. Dilaunching di Desa Penanggal. Nama Penanggal ini dapat diartikan Pemberi Tanda / Pemberi Tanggal, bersatunya tekad dan semangat Gerakan Desa Bersih Narkoba di Kabupaten Lumajang. Penanggal juga memiliki arti Pelepas / Peluruh / Peluntur mengandung makna untuk meluruhkan segala bentuk kejahatan termasuk kejahatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
  1. Desa Penanggal berlokasi di lereng Mahameru, Mahameru berdasarkan legenda disebut sebagai Lemah Hyang, yang artinya tempat para Dewa, julukan Lemah Hyang inilah yang diyakini banyak pihak menjadi cikal bakal nama Lumajang, Kabupaten yang kita cintai bersama ini.
  2. Dilaunching bersamaan dengan Kampung Semeru Tangguh. Tangguh yang berarti kokoh, kuat, perkasa, tak terkalahkan baik oleh segala bentuk kejahatan maupun oleh balak penyakit termasuk wabah Covid-19.
Semoga gaung deklarasi Desa Bersinar dari Penanggal ini, dapat menggelorakan tekad, membulatkan semangat seluruh desa di Kabupaten Lumajang untuk mewujudkan Lumajang Hebat Bermartabat Tanpa Narkoba.Thoriqul Haq M.ML, Bupati Lumajang mengajak kepada semua lapisan masyarakat ikut memerangi narkoba. Anak muda Lumajang dan Indonesia harus selamat dari jerat narkoba dan menjadi tugas bersama untuk menjaga generasi penerus bangsa tidak kenal dengan narkoba."Dalam teleconference yang dipimpin Wakil Presiden, dikukuhkan kembali agar semua lembaga ikut memerangi narkoba," papar Cak Thoriq.Indah Amperawati, Wakil Bupati Lumajang berpesan kepada para anak muda Lumajang untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif. Pilih teman yang baik, jangan sampai karena salah memilih teman akhirnya terjurus pada jerat narkoba, miras dan perbuatan kriminalitas lain."Harus kreatif, karena saya yakin pemuda kreatif tidak akan dekat dengan narkoba," pesan Bunda Indah.(yud)


Selasa, 30 Juni 2020

KEPALA BNNK LUMAJANG INGINKAN DESA BERSINAR MAMPU PERKUAT KETAHANAN MASYARAKAT DESA DALAM MELAWAN NARKOBA

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Lumajang , AKBP Indra Brahmana menginginkan, agar Desa Penanggal Kecamatan Candipuro Lumajang yang telah diresmikan sebagai Desa Bersih Narkoba (BERSINAR) sekaligus Kampung Tangguh Semeru untuk menangani Covid-19, juga dapat membantu untuk memperkuat masyarakat dalam ketahanan menolak segala jenis penyalahgunaan narkoba.“Harus jadi tangguh, setelah Covid-19 kampung tangguh harus terus berjalan tetap menjadi kampung tangguh, saya ingin kampung tangguh itu tangguh masyarakatnya, termasuk tangguh dalam menangkal penyalahgunaan narkoba,” kata dia disela acara peresmian Kampung Tangguh Semeru dan Desa Bersinar (Bersih Narkoba), bertempat di Balai Desa Penanggal Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Rabu (24/6).Menurutnya, Kampung Tangguh Semeru yang telah diresmikan juga harus dapat membantu memperkuat kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang terdampak Covid-19, karena dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 bukan hanya pada bidang kesehatan saja, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat.Sementara itu, Kapolres Lumajang, AKBP. Deddy Foury Millewa mengungkapkan, bahwa keberadaan Kampung Tangguh Semeru juga diharapkan mampu meningkatkan ketagguhan masyarakat desa dalam menangkal narkoba."Saya harapkan, Desa Bersinar dan Kampung Tangguh Semeru dapat menyelesaikan masalah sosial, serta mampu dijalankan secara maksimal, yang juga harus disamakan kesehatan itu satu kesepakatan untuk mencapainya bersama," ujarnya.Sementara, Kepala Desa Penanggal Cik Ono menerangkan, bahwa dirinya bersama jajaran Aparatur Pemerintah Desa dan masyarakat Penanggal telah siap untuk mewujudkan Desa Penanggal kampung tangguh dan Desa Bersinar."Dengan diresmikannya Kampung Tangguh Semeru dan Bersinar, kami siap untuk menjadi kampung yang benar-benar tangguh dalam menanggal narkoba serta covid 19, dan kami akan siap untuk melaksanakan sosialisi kepada masyarakat," tambahnya. (yud) 


Minggu, 15 September 2019

LAWAN NARKOBA DENGAN GERAKAN MORAL DAN BUDAYA

lumajangkab.bnn.go.id,Lumajang-Diseminasi Informasi (Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika) P4GN TA 2019, digelar Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Lumajang yang bertempat di Halaman Stadion Semeru Lumajang, Sabtu (14/9) kemarin.Kegiatan tersebut diikuti oleh  157 peserta yang berasal dari Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) dan dibuka langsung oleh Kepala BNN Kabupaten Lumajang, AKBP Indra Brahmana. “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mewujudkan masyarakat pedesaan yang bebas dari narkoba melalui pelestarian budaya dan membangun etika di era milenial,” tegas Indra saat memberikan sambutan."Memberantas narkoba tidak cukup dengan cara-cara penindakan atau penegakan hukum. Butuh solusi jangka panjang dan lebih menyentuh agar generasi muda tidak terjebak barang haram itu. Salah satunya dengan melakukan gerakan moral dan budaya, “tambah pria asli Lumajang ini.Generasi muda yang tidak dibekali pengetahuan moral dan spirit kebudayaan akan mudah terlena bujuk rayu para bandar. Imbasnya, narkoba akan meracuni, merusak mental, dan menghancurkan masa depan peradaban bangsa.Karena itulah, lanjut Indra, menciptakan ruang-ruang baru yang menyenangkan bagi generasi muda perlu dilakukan. ”Harus ada penegasan dari diri kita bahwa mengonsumsi narkoba itu tidak bermoral dan tidak berbudaya,” paparnya.Lebih jauh dijelaskan, anggapan generasi muda bisa senang dengan mengonsumsi narkoba merupakan pemikiran klasik dan kolot. Anggapan tersebut sudah tidak relevan dengan generasi milinial atau yang akrab disebut generasi zaman now. Generasi yang hidup di era sekarang harus lebih mengedepankan karya nyata."Jaga keluarga kita. Kalau ada keluarga ataupun kerabat kita yang menggunakan narkoba, segera laporkan ke BNNK Lumajang," pungkasnya. (yud) 


Selasa, 13 Agustus 2019

MELALUI RAPAT KOORDINASI, BNNK LUMAJANG OPTIMALKAN REHABILITASI PENYALAH GUNA NARKOTIKA

Demi menyatukan visi serta penyusunan langkah-langkah strategis dalam pelaksanaan rehabilitasi Narkotika di Lumajang, Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Lumajang menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Rehabilitasi Tingkat Kabupaten bersama Instansi Terkait.Rakor dibuka oleh Kepala BNNK Lumajang, AKBP Indra Brahmana dengan narasumber Kabid Rehabilitasi BNNP Jawa Timur, dr. Poerwanto Setijawargo, Kasie PTM Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, Iswahyuni dan Kauryan Dokpol RS Bhayangkara, Agus Suleman.Rakor yang diselenggarkan di Hall Arjuna Hotel GM Lumajang (13/8) ini menghadirkan 19 orang peserta yang terdiri dari perwakilan dari Dinas Sosial, Puskesmas, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan Pondok Pesantren.Kepala BNNK Lumajang, AKBP Indra Brahmana mengatakan, pembahasan rapat tidak lepas dari implementasi Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2018 tentang rencana aksi nasional pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika (P4GN) dan prekursor Narkotika tahun 2018-2019. Instruksi menegaskan bahwa instansi pemerintah dan swasta wajib ikut serta melaksanakan program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Predaran Gelap Narkotika (P4GN) agar masyarakat lebih peduli dalam penanganan Narkotika. “Sebenarnya semua sudah melakukan program masing masing, namun kita sinkronkan lagi program-program ini agar berjalan bersama,” kata Indra.Sementara itu menurut Kabid Rehabilitasi BNN Provinsi Jawa Timur, dr Poerwanto,  Stigma negative masyarakat terhadap pecandu menyebabkan mereka enggan mengakui bahwa dirinya adalah pecandu Narkoba. Disamping itu, banyak diantara kita yang masih menganggap pecandu merupakan pelaku tindak kriminal yang harus dihukum pidana. “Sudah menjadi tugas kita bersama untuk memberikan informasi yang benar tentang rehabilitasi kepada masyarakat agar bagi mereka yang menjadi penyalahguna narkoba tidak lagi takut untuk datang menjalani program rehabilitasi,” Kata dr Poer. (yud)  


Selasa, 13 Agustus 2019

MELALUI RAPAT KOORDINASI, BNNK LUMAJANG OPTIMALKAN REHABILITASI PENYALAH GUNA NARKOTIKA

Demi menyatukan visi serta penyusunan langkah-langkah strategis dalam pelaksanaan rehabilitasi Narkotika di Lumajang, Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Lumajang menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Rehabilitasi Tingkat Kabupaten bersama Instansi Terkait.Rakor dibuka oleh Kepala BNNK Lumajang, AKBP Indra Brahmana dengan narasumber Kabid Rehabilitasi BNNP Jawa Timur, dr. Poerwanto Setijawargo, Kasie PTM Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, Iswahyuni dan Kauryan Dokpol RS Bhayangkara, Agus Suleman.Rakor yang diselenggarkan di Hall Arjuna Hotel GM Lumajang (13/8) ini menghadirkan 19 orang peserta yang terdiri dari perwakilan dari Dinas Sosial, Puskesmas, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan Pondok Pesantren.Kepala BNNK Lumajang, AKBP Indra Brahmana mengatakan, pembahasan rapat tidak lepas dari implementasi Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2018 tentang rencana aksi nasional pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika (P4GN) dan prekursor Narkotika tahun 2018-2019. Instruksi menegaskan bahwa instansi pemerintah dan swasta wajib ikut serta melaksanakan program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Predaran Gelap Narkotika (P4GN) agar masyarakat lebih peduli dalam penanganan Narkotika. “Sebenarnya semua sudah melakukan program masing masing, namun kita sinkronkan lagi program-program ini agar berjalan bersama,” kata Indra.Sementara itu menurut Kabid Rehabilitasi BNN Provinsi Jawa Timur, dr Poerwanto,  Stigma negative masyarakat terhadap pecandu menyebabkan mereka enggan mengakui bahwa dirinya adalah pecandu Narkoba. Disamping itu, banyak diantara kita yang masih menganggap pecandu merupakan pelaku tindak kriminal yang harus dihukum pidana. “Sudah menjadi tugas kita bersama untuk memberikan informasi yang benar tentang rehabilitasi kepada masyarakat agar bagi mereka yang menjadi penyalahguna narkoba tidak lagi takut untuk datang menjalani program rehabilitasi,” Kata dr Poer. (yud)


Senin, 11 Maret 2019

BNNK LUMAJANG OPTIMALKAN TIM ASESMEN TERPADU UNTUK PULIHKAN PECANDU NARKOBA

Setiap tahun peredaran narkotika mengalami peningkatan, baik jumlah kasus yang diungkap maupun jenisnya. Bahkan saat ini negara  kita dikategorikan sedang dalam keadaan darurat narkotika.

Penanganan terhadap penyalahgunaan narkotika yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) pun terus berevolusi. Selain pemberantasan jaringan peredaran gelap narkotika, BNN juga fokus penanganan rehabilitasi bagi pemakai yang tertangkap tangan dan berurusan dengan hukum di pengadilan.

Melalui Tim Asesmen Terpadu (TAT) yang terdiri dari unsur dokter (kedokteran medis dan psikologis) dan tim hukum (kepolisian, kejaksaan, BNN serta bagian hukum dan HAM/lapas), nasib pemakai narkotika bisa dibedakan antara pengedar dan pecandu.

"TAT menjadi ujung tombak dalam menentukan apakah penyalahgunaan narkotika termasuk dalam kualifikasi pecandu atau korban penyalahgunaan. Ini akan sangat berpengaruh dalam pencegahan penyalahgunaan narkotika," kata AKBP Indra Brahmana, kepala BNN Kabupaten Lumajang, ketika ditemui disela kegiatan TAT di kantornya, Senin (11/3).

TAT berposisi sebagai asesor yang memiliki tugas  memberikan rekomendasi bagi hakim mengenai tingkat ketergantungan  narkotika dan keterlibatan tersangka pada tindak pidana narkotika. Sehingga, melalui rekomendasi TAT, penindakan terhadap penyalahgunaan narkotika bisa diklasifikasikan dan disesuaikan. Namun, akhir dari keputusan hukum tetap berada di tangan hakim yang mengadili kasus tersebut. "Karena fokus BNN adalah bagaimana korban narkotika bisa direhabilitasi. Berbeda misalnya dengan pecandu atau pengedar dalam penindakan hukumnya," imbuhnya.

Tidak semua kasus penyalahgunaan narkotika bisa melalui TAT. Ada beberapa kualifikasi bagi pelaku penyalahgunaan narkotika yang terjerat hukum dan disidangkan dengan indikator barang bukti. Yaitu untuk kasus sabu-sabu di bawah 1 gram, ekstasi 8 butir dan ganja 5 gram. 

Adanya indikator tersebut sebagai upaya dalam melindungi masa depan korban penyalahgunaan narkotika. Sehingga sanksi hukumnya tidak sama dengan pecandu, apalagi pengedar. "Rehabilitasi menjadi cara bagi para korban tersebut. Lewat TAT inilah nasib mereka bisa diselamatkan," ujar Indra.

Karena, lanjut Indra, tidak semua penyalahgunaan narkotika, terutama korban, harus dihukum sesuai regulasi, yaitu hukuman penjara. (yud)


Rabu, 24 Juli 2019

PERINGATAN HARI ANAK NASIONAL, BNN KABUPATEN LUMAJANG DAN DUTA ANTI NARKOBA KABUPATEN LUMAJANG BERIKAN PENYULUHAN DI SDN DITORUNAN 1 LUMAJANG

Upaya pencegahan dini terhadap narkoba semakin gencar dilakukan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Lumajang. Kali ini dalam memperingati Hari Anak Nasional, BNNK Lumajang membidik kalangan pendidikan Sekolah Dasar (SD).Sekitar 350 anak-anak dari SD Negeri Ditotrunan 1 terlihat antusias mengikuti sosialisasi bahaya narkoba yang diberikan oleh Penyuluh Narkoba BNN Kabupaten Lumajang dibantu oleh Duta Anti Narkoba Kabupaten Lumajang.Penyampaian materi bahaya penyalahgunaan narkoba tersebut diselipkan dalam media permainan dan cerita yang interaktif, misalnya narkoba adalah barang terlarang oleh sebab itu, anak-anak diajarkan untuk menjauhinya. Sesekali dalam cerita disuguhi candaan sehingga anak-anak tertawa, pemberian hadiah bagi anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan dari penyuluh menambah keceriaan pada kegiatan tersebut.Kepala BNNK Lumajang, AKBP Indra Brahmana mengatakan, kegiatan kali ini merupakan upaya pencegahan dini terhadap penyalahgunaan narkoba. Sebab, penyalahgunaan narkoba saat ini sudah semakin parah."Jelas sangat penting, upaya pencegahan dini mutlak harus kita lakukan, salah satunya adalah ke tingkat anak sekolah dasar seperti sekarang ini," katanya.Lebih lanjut dikatakannya, penyampaian materi menjadi tantangan sendiri bagi anggota BNNK Lumajang, karena masih anak-anak, maka harus menyesuaikan dengan media anak yang mudah dipahami."Kami menggunakan media permainan, film animasi dan cerita boneka layaknya dongeng dengan kisah yang diselipkan cerita tentang bahaya penyalahgunaan narkoba dengan bahasa anak, kemudian juga ada badut untuk meramaikan suasana," jelasnya.Sudah menjadi tugas kita bersama untuk memastikan anak-anak dapat tumbuh sehat dan aman agar mereka bisa menggapai masa depan cerahnya,” tegasnya.Sementara itu Kepala Sekolah SD Negeri Ditotrunan 1, Drs. Muhammad Yusuf, M.MPd mengaku senang pihak BNNK Lumajang mendatangi sekolahnya untuk melakukan sosialisasi dan penyuluhan."Kami senang sekali, ini pertama kalinya, kami berharap dengan kegiatan seperti ini dapat menjauhkan anak-anak dari bahaya penyalahgunaan narkoba," katanya.“Dengan kegiatan ini sedikit banyak anak-anak bisa mendapatkan pengetahuan tentang penyalagunaan narkoba melalui penyampaian yang sederhana dengan bahasa anak-anak tadi oleh pihak BNNK Lumajang,” tegas Yusuf. (yudi)


Kamis, 28 Februari 2019

BERSIHKAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN DARI NARKOBA, BNN KABUPATEN LUMAJANG BENTUK RELAWAN

Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Lumajang membentuk relawan antinarkoba di lingkungan pendidikan Kabupaten Lumajang. Langkah ini sebagai bentuk pencegahan peredaran narkoba di dunia pendidikan.Hal ini merupakan hasil kegiatan dari asistensi penguatan pembangunan berwawasan antinarkoba di institusi pendidikan Kabupaten Lumajang yang digelar di Hotel Lumajang, Kamis (28/2). Dalam acara itu hadir sebanyak 30 orang dari instansi pendidikan Kabupaten Lumajang di wilayah Kecamatan Lumajang dan Kecamatan Klakah yang akan menjadi relawan antinarkoba."Kehadiran relawan untuk terwujudnya lingkungan pendidikan di Lumajang bersih narkoba," ujar Kepala BNNK Lumajang AKBP Indra Brahmana. Menurut Indra, para relawan antinarkoba yang telah mengikuti asistensi penguatan akan memperoleh sertifikat serta pin yang memiliki nomer registrasi resmi. Mereka, kata dia, nantinya akan bertugas menciptakan lingkungan bersih narkoba di sekolahnya masing-masing.Indra Brahmana menambahkan, relawan anti narkoba harus menjaga nama baik relawan maupun organisasi BNN sebagai pembina relawan. Selain itu kata dia perilaku atau tindakan sukarela yang dilakukan relawan antinarkoba untuk menolong orang lain.Khususnya, ungkap Indra, dalam memberikan informasi pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN) kepada masyarakat. "Kegiatan ini tanpa mengharapkan imbalan untuk terwujudnya lingkungan bebas narkoba," imbuh dia. (yud) 



Kamis, 21 Maret 2019

BNN KABUPATEN LUMAJANG GELAR RAPAT KERJA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Untuk memetakan kelompok sasaran penggiat anti narkoba dan membangun komunikasi serta kepedulian stakeholder dari masyarakat dalam melakukan pananggulangan masalah narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Lumajang menyelenggarakan kegiatan Rapat Kerja Pemberdayaan Masyarakat di Lingkungan Pendidikan.Kegiatan yang dilaksanakan pada  Kamis (21/3) di Hotel GM Lumajang, diikuti oleh  30 orang dari perwakilan Instansi Pendidikan  di Kabupaten Lumajang dalam rangka upaya Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di Kabupaten Lumajang.Kepala BNN Kabupaten Lumajang, AKBP Indra Brahmana mengharapkan dari kegiatan ini para peserta memahami persoalan narkoba di Indonesia dan menyadari bahwa persoalan narkoba merupakan tanggung jawab bersama, dimana para peserta disiapkan untuk menjadi Penggiat Anti Narkoba di institusi masing-masing.“Secara umum, dampak negatif dari narkoba sudah menjadi rahasia umum semua orang, hal ini karena sebagaimana yang kita ketahui, narkoba lebih banyak memberikan dampak yang buruk dari pada dampak yang baik atau positif, dampak negatif dari narkoba tidak hanya pada diri sendiri, melainkan ada juga dampak negatif narkoba terhadap lingkungan masyarakat, seperti lingkungan sekolah dan keluarga”, ujar Indra.“Kita terus melakukan upaya dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat, bebas dari penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba dengan menyatukan dan menggerakkan segenap potensi masyarakat dalam upaya Pencegahan, Rehabilitasi dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba untuk Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan P4GN”, ungkapnya. (yud)


Terkini


Kamis, 23 Mei 2019

BNNK Lumajang Gelar Pemilihan Duta Anti Narkoba 2019


Kamis, 23 Mei 2019

BNNK Lumajang Gelar Pemilihan Duta Anti Narkoba 2019


Selasa, 6 Agustus 2019

NARKOBA : KENIKMATAN MEMANG DIBUTUHKAN, TAPI TIDAK SEMUA KENIKMATAN BISA KITA PRIORITASKAN

Hidup adalah tentang memilih kesenangan dan memaknai penderitaan. Pada hakikatnya manusia memang cenderung mencari hal-hal yang menyenangkan bagi hidupnya, dan tidak jarang manusia mengatasnamakan kenikmatan sebagai dasar ia hidup. Martin Seligmen yaitu pakar psikologi positif menyatakan bahwa setiap manusia perlu menanamkan pemahaman mengenai pemaknaan terhadap memilih kesenangan dan penderitaan dalam hidup yang biasa disebut grafitication dan pleasure.Di era modern ini, manusia sering mengalami wabah galau dan kesepian, dan kenikmatan seolah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi. Manusia seakan bergantung pada kenikmatan yang sangat mudah ia dapatkan seperti tempat hiburan, kuliner yang beragam, media sosial yang semakin canggih, bahkan barang-barang yang mudah didapatkan. Hingga pada akhirnya manusia hidup hanya untuk mencari kenikmatan lagi dan lagi, yang menyebabkan manusia jauh dari kata antusias terhadap aktualisasi diri terhadap hidupnya. Hal ini akan berdampak pada diri sendiri dan merabah ke lingkungan yang akan menjadikan sumber daya manusia semakin buruk bagi kemajuan Bangsa.Salah satu masalah mengenai kenikmatan yang besar dampaknya ialah narkoba. Khususnya generasi millennial yang menjadikan kenikmatan sementara sebagai prioritas utama. Banyak dari kaum muda yang ketika mengalami penderitaan tidak mampu untuk mencari solusi atas masalahnya, seperti gagal dalam percintaan, stress dalam menghadapi pendidikan, dan lain sebagainya. Sehingga mereka memilih untuk mencari kenikmatan dengan mengkonsumsi barang-barang haram. Mudahnya mendapatkan barang-barang haram tersebut memang menjadi salah satu faktor utama penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba. Tidak hanya itu, karakteristik emosi yang masih labil juga merupakan pemicu generasi muda dalam pengambilan keputusan yang salah.Kenikmatan memang kita butuhkan, tapi tidak semua kenikmatan bisa kita prioritaskan. Banyak hal positif lain yang bisa kita lakukan ketika mengalami stress seperti melakukan aktivitas olahraga atau melakukan hal positif yang kita senangi, berkumpul dengan orang-orang yang membuat kita merasa nyaman seperti keluarga dan teman walau hanya sekedar curhat atau bercerita. Banyak hal yang mampu menjaga diri kita menjadi sehat, bisa dengan membiarkan tangisan keluar dengan baik, bisa juga memilih untuk menyendiri dengan niat positif. Lakukan apa saja yang membuatmu merasa baik, dan tidak untuk mengatasi masalah dengan masalah.Orang yang menyalahgunakan narkoba untuk solusi masalahnya merupakan orang yang ingin mati sia-sia, golongan orang yang memaknai penderitaan dengan kebodohan, dan orang yang buta akan kesenangan. Mau jadi apa kita di masa depan itu kita sendiri yang menentukan, sebab kontrol penuh hidup kita adalah diri kita sendiri. Mulai sekarang tanamkan, bahwa stress, galau, jomblo, taka da uang, kesepian itu bukan masalah, yang menjadi masalah adalah ketika kau mempermasalahkan itu semua. Jadi berhentilah menyakiti dirimu dengan hal hal bodoh yang membuat hidupmu dan lingkunganmu malu.Penulis : Rohmatul Umah (Duta Anti Narkoba Kabupaten Lumajang/Mahasiswi Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang)


Selasa, 6 Agustus 2019

NARKOBA : KENIKMATAN MEMANG DIBUTUHKAN, TAPI TIDAK SEMUA KENIKMATAN BISA KITA PRIORITASKAN

Hidup adalah tentang memilih kesenangan dan memaknai penderitaan. Pada hakikatnya manusia memang cenderung mencari hal-hal yang menyenangkan bagi hidupnya, dan tidak jarang manusia mengatasnamakan kenikmatan sebagai dasar ia hidup. Martin Seligmen yaitu pakar psikologi positif menyatakan bahwa setiap manusia perlu menanamkan pemahaman mengenai pemaknaan terhadap memilih kesenangan dan penderitaan dalam hidup yang biasa disebut grafitication dan pleasure.Di era modern ini, manusia sering mengalami wabah galau dan kesepian, dan kenikmatan seolah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi. Manusia seakan bergantung pada kenikmatan yang sangat mudah ia dapatkan seperti tempat hiburan, kuliner yang beragam, media sosial yang semakin canggih, bahkan barang-barang yang mudah didapatkan. Hingga pada akhirnya manusia hidup hanya untuk mencari kenikmatan lagi dan lagi, yang menyebabkan manusia jauh dari kata antusias terhadap aktualisasi diri terhadap hidupnya. Hal ini akan berdampak pada diri sendiri dan merabah ke lingkungan yang akan menjadikan sumber daya manusia semakin buruk bagi kemajuan Bangsa.Salah satu masalah mengenai kenikmatan yang besar dampaknya ialah narkoba. Khususnya generasi millennial yang menjadikan kenikmatan sementara sebagai prioritas utama. Banyak dari kaum muda yang ketika mengalami penderitaan tidak mampu untuk mencari solusi atas masalahnya, seperti gagal dalam percintaan, stress dalam menghadapi pendidikan, dan lain sebagainya. Sehingga mereka memilih untuk mencari kenikmatan dengan mengkonsumsi barang-barang haram. Mudahnya mendapatkan barang-barang haram tersebut memang menjadi salah satu faktor utama penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba. Tidak hanya itu, karakteristik emosi yang masih labil juga merupakan pemicu generasi muda dalam pengambilan keputusan yang salah.Kenikmatan memang kita butuhkan, tapi tidak semua kenikmatan bisa kita prioritaskan. Banyak hal positif lain yang bisa kita lakukan ketika mengalami stress seperti melakukan aktivitas olahraga atau melakukan hal positif yang kita senangi, berkumpul dengan orang-orang yang membuat kita merasa nyaman seperti keluarga dan teman walau hanya sekedar curhat atau bercerita. Banyak hal yang mampu menjaga diri kita menjadi sehat, bisa dengan membiarkan tangisan keluar dengan baik, bisa juga memilih untuk menyendiri dengan niat positif. Lakukan apa saja yang membuatmu merasa baik, dan tidak untuk mengatasi masalah dengan masalah.Orang yang menyalahgunakan narkoba untuk solusi masalahnya merupakan orang yang ingin mati sia-sia, golongan orang yang memaknai penderitaan dengan kebodohan, dan orang yang buta akan kesenangan. Mau jadi apa kita di masa depan itu kita sendiri yang menentukan, sebab kontrol penuh hidup kita adalah diri kita sendiri. Mulai sekarang tanamkan, bahwa stress, galau, jomblo, taka da uang, kesepian itu bukan masalah, yang menjadi masalah adalah ketika kau mempermasalahkan itu semua. Jadi berhentilah menyakiti dirimu dengan hal hal bodoh yang membuat hidupmu dan lingkunganmu malu.Penulis : Rohmatul Umah (Duta Anti Narkoba Kabupaten Lumajang/Mahasiswi Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang)


Suara Masyarakat


DATA STATISTIK BNNP JAWA TIMUR

0

Total Kasus Narkoba

0

Total Tersangka Kasus Narkoba

0

Total Pasien Penyalahgunaan

0

Jumlah Penggiat Anti Narkoba

0

Jumlah Sebaran Informasi